Edu Blog’s

PLURALISM’?

 Munculnya Pluralisme

  Pada awal abad ke-20 seorang teolog Kristen Jerman bernama Ernst Troeltsch menggulirkan perlunya bersikap pluralis di tengah-tengah berkembangnya konflik intern antar aliran-aliran dalam agama Kristen maupun antar agama. Dia berpendapat dalam sebuah artikelnya yang berjudul “The Place of Christianity among the World Religions”, bahwa umat Kristiani tidak berhak mengklaim paling benar sendiri. Pendapat senada ternyata juga banyak dilontarkan oleh sejumlah pemikir dan teolog lainnya seperti sejarawan terkenal Arnold Toynbee dan tokoh Protestan liberal Friedrich Schleiermacher.
  Pada dasarnya munculnya ide pluralisme agama ini dilatarbelakangi oleh menghebatnya pertikaian antara madzhab-madzhab dalam agama Kristen yang terjadi pada akhir abad ke-19 hingga sampai pada tingkatan mutual exclusion (saling mengkafirkan), sehingga mendorong presiden Amerika Serikat pada waktu itu, Grover Cleveland, turun tangan untuk mengakhiri perang antar madzhab tersebut. Hal ini bisa dipahami, mengingat pada awal-awal abad ke-20 telah bermunculan bermacam-macam aliran fundamentalis di Amerika Serikat.
 
Selain konflik antar aliran madzhab dalam Kristen, faktor politik juga terkait rapat dengan latar belakang gagasan ini. Pluralisme agama adalah respon terhadap political pluralism yang telah cukup lama digulirkan (sebagai wacana) oleh para peletak dasar-dasar demokrasi pada awal-awal abad modern, dan yang secara nyata dipraktikkan oleh USA. Kecenderungan umum dunia Barat waktu itu tengah berusaha menuju modernasasi di segala bidang. Dan salah satu ciri dari modern adalah demokrasi, globalisasi dan HAM. Maka dari sinilah lahir political pluralism. Jika dilihat dari konteks ini, maka religious pluralism pada hakekatnya adalah gerakan politik dan bukan gerakan agama
  Reaksi pihak gereja atas munculnya ide pluralisme agama ini
  Walaupun pluralisme dimunculkan oleh teolog kristen Ernst Troeltsch,Arnold Toynbee,tokoh Protestan liberal Friedrich Schleiermacher, john hick. Namun pihak Gereja sangat menentang keras dengan kemunculan ide ini, baik dari pihak Katolik, Protestan ataupun aliran lainnya.
  Bukti Penentangan pihak Gereja terhadap pluralisme Agama
  Pertama: pengiriman misionaris Kristen ke seluruh penjuru dunia – khususnya dunia Islam yang terus berlangsung sampai sekarang ini.
  Kedua: John Hick (salah seorang tokoh pluralisme Internasional saat ini) banyak ditentang oleh para teolog Kristen dan pihak gereja, bahkan dia diusir dari posisi penting yang dia pegang di gereja Presbyterian. Perdebatan sengit yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul: Problems in the Philosophy of Religion, merupakan salah satu bukti kuat tentang sanggahan dan penentangan terhadap pemikiran pluralisme agama, khususnya yang dikembangkan oleh John Hick dari kalangan pastur dan teolog Kristen.
  Nah sekarang cendawan-cendawan yang mengaku muslim malah mengambilnya dan disebarkan ke kalangan umat Islam. Suatu hal yang sangat keblinger, idiot dan buta mata hati.
  Bagi saya menilik sejarah perkembangan dan tanggapan atau reaksi mereka sendiri terhadap ide pluralisme ini, kita tidak perlu susah-susah menghabiskan energi untuk mencari kelemahan ide ini, sebab di kalangan mereka sendiri menentang habis-habisan – termasuk dari para romo dan pendeta taat Kristen di Indonesia. Padahal ide ini kalau dikembangkan di negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam, maka sangat menguntungkan sekali bagi proses Kristenisasi.
  Ketika kedua agama tersebut dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang ’sendiko dawuh” (taat) dengan himbauan pluralis tersebut tak lagi memiliki ghirah (kecemburuan) dalam beragama. Baginya tidak ada yang istimewa pada Islam bila dibandingkan dengan Kristen, tak ada kelebihannya seorang Muslim dibandingkan dengan penganut Kristen, karena semua agama sama.
  Pada saat yang bersamaan, secara finansial para misionaris Kristen lebih menjanjikan keuntungan seperti yang menjadi misi unggulan mereka. Terutama di daerah-daerah yang masih dibilang miskin. Logika manusia normal, ketika harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap benar tentunya variabel lain yang dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Maka dengan ringan mereka mau melepas baju Islamnya untuk mendapatkan materi dengan bergabung dengan jema’at Kristen, toh tak ada nilai lebih Islam sehingga harus dipertahankan dengan menanggung lapar dan kemiskinan. Di sinilah kontribusi Jaringan Islam Liberal penyebar pluralisme terhadap Misinonaris Kristen terbukti.
  Saya lalu berbicara pada teman saya itu :”Pihak Gereja saja sangat menentang keras dengan kemunculan ide ini, baik dari pihak Katolik, Protestan ataupun aliran lainnya, padahal berasal dari teolog mereka, apa Kita sebagai muslim akan mengambil paham pluralsme agama ini.
  “Kalau kita mengambilnya berarti goblok , keblinger,idiot dan buta mata hati”
  “Apa kamu mau seperti itu?” kata saya mengakhiri diskusi dengan teman

Iklan

~ oleh arifkanz pada Desember 1, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: